Psikoterapi (Minggu 1)

1. Pengertian Psikoterapi

Psikoterapi secara etimologis mempunyai arti sederhana, yaitu “Psyche” yang artinya jelas, yaitu “mind” atau “jiwa”, dan “therapy” dari bahasa Yunani yang berarti “merawat” atau “mengasuh”, sehingga psikoterapi dalam arti sempitnya adalah perawatan dalam aspek kejiwaan seseorang.

Wolberg (1954) merumuskan psikoterapi sebagai suatu bentuk perawatan atau perlakuan, atau treatment terhadap masalah yang timbul yang asalnya dari faktor emosi pada mana seorangnyang terlatih, dengan terencana mengadakan hubungan profesionaldengan pasien dengan tujuan memindahkan, mengubah sesuatu simtom dan mencegah agar simtom tidak muncul pada seseorang yang terganggu pola perilakunya, untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi secara lebih positif.

Eysenk (1961) merumuskan psikoterapi dalam beberapa ciri yakni :

  1. Hubungan antar perorangan yang berlangsung lama.
  2. Melibatkan seorang yang terlatih.
  3. Adanya ketidak puasan pada diri klien tentang sesuatu yang emosional atau penyesuaian diri.
  4. Pemakaian metode psikologi.
  5. Aktivitas yang mendasarkan pada teori tentang kelainan mental.
  6. Melalui hubungan yang dilakukan, bertujuan memperbaiki ketidak puasannya terhadap diri sendiri.

Ivey & Simek-Downing (1980) yang mengemukakan bahwa psikoterapi adalah proses jangka panjang, berhubungan dengan upaya merekontruksi seseorang dan perubahan yang lebih besar ada struktur kepribadian.

2. Tujuan Psikoterapi

  • Mengubah perilaku yang tidak diinginkan
  • Mencari ‘growth experience
  • Mengubah perilaku yang menyebabkan klien merasa tidak bahagia
  • Rekonstruksi karakter dan kepribadian
  • Klien dapat melakukan kontrol diri lebih baik

Psikoterapi terlebih dahulu menangani penyimpangan yang merusak dan baru kemudian menangani usaha pencegahannya. Psikoterapi berusaha pada struktur dasar perkembangannya. Corey (1991) merumuskan tujuan psikoterapi pada pendekatan terpusat pada pribadi dengan: untuk memberikan suasana aman, bebas, agar klien mengeksplorasi diri dengan enak, sehingga ia bisa mengenali hal-hal yang mencegah pertumbuhannya dan bisa mengalami aspek-aspek pada dirinya yang sebelumnya ditolak atau terhambat.

          Tujuan psikoterapi dengan pendekatan psikodinamik menurut Ivey, et al (1987) adalah; Membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Rekonstruksi kepribadianna dilakukan terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyusun sintesis yang baru dari konflik-konflik yang lama.

          Tujuan psikoterapi dengan pendekatan psikoanalisis menurut Corey (1991) dirumuskan sebagai; membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Membantu klien dalam menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui konflik-konflik yang ditekan melalui pemahaman intelektual.

          Tujuan psikoterapi dengan pendekatan Rogerian, terpusat pada pribadi, menurut Ivey, et al (1987) adalah: untuk memberikan jalan terhadap potensi yang dimiliki seseorang menemukan sendiri arahnya secara wajar dan menemukan dirinya sendiri yang nyata atau ideal dan mengeksplorasi emosi yang majemuk serta memberi jalan bagi pertumbuhan dirinya yang unik.

          Tujuan psikoterapi dengan pendekatan behavioristik, dijelaskan oleh Ivey, et al (1987) sebagai berikut: untuk menghilangkan kesalahan dalam belajar dan berperilaku dan untuk mengganti dengan pola-pola perilaku yang lebih bisa menyesuaikan.

          Tujuan psikoterapi dengan metode dan teknik Gestalt, dirumuskan oleh Ivey, et al (1987) sebagai berikut: Agar seseorang lebih menyadari mengenai kehidupannya dan bertanggung jawab terhadap arah kehidupan seseorang.

          Pada akhirnya uraian mengenai tujuan psikoterapi ini, ditutup dengan uraian mengenai terapi realitas dari kedua tokoh diatas.

          Ivey, et al (1987) merumuskan psikoterapi dengan pendekatan terapi realitas sebagai: Untuk memenuhi kebutuhan seseorang tanpa dicampur-tangani orang lain.

3. Unsur-Unsur Psikoterapi

  1. Dua individu saling terikat dalam interaksi yang bersifat rahasia, dimana klien akan dibukakan jalan untuk menjadi tahu.
  2. Interaksi umumnya terbatas pada pertukaran verbal.
  3. Interaksi berlangsung dalam jangka waktu lama.
  4. Hubungan bertujuan untuk mengubah perilaku tertentu pada klien, yang telah disetujui oleh kedua pihak.

Sumber :

Gunarsa D, Singgih. 1996. “Konseling dan Psikoterapi”. Jakarta ; PT BPK Gunung Mulia

https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=26&cad=rja&uact=8&ved=0CEIQFjAFOBQ&url=http%3A%2F%2Fpsi442.weblog.esaunggul.ac.id%2Fwp-content%2Fuploads%2Fsites%2F697%2F2013%2F04%2FPsikoterapi-Pertemuan-2.ppt&ei=diQJVaX3GYiQuATb5YGwAw&usg=AFQjCNF5yNKuR6La4hUsBgaapYXPCg0Abg&sig2=31z4TQAXpka4JK46rmK6Cw

http://library.walisongo.ac.id/digilib/files/disk1/10/jtptiain-gdl-s1-2005-mahfudzfau-484-BAB2_410-1.pdf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s