Persepsi terhadap Seragam Polisi

Hampir setiap hari kita selalu melihat orang-orang beraktivitas dengan menggunakan seragamnya masing-masing. Seragam menunjukan identitas seseorang atau label seseorang. Seragam juga mampu mempengaruhi persepsi oranglain. Setiap orang mempunyai persepsi atau pandangan yang berbeda-beda terhadap seragam itu sendiri. Persepsi adalah pengorganisasian dan penginterpretasian stimulus yang di indera sehingga merupakan ssesuatu yang berarti, dan merupakan respons yang terintegrasi dalam diri individu (Walgito,2004:88) sehingga, persepsi dapat dikatakan sebagai interpretasi atau penafsiran dari pengalaman. Pengalaman membuat kita menafsirkan bagaimana pengaruh seragam itu terhadap kita.
Dalam kehidupan berwarganegara pastinya terdapat penegak hukum. Penegak hukum diartikan sebagai petugas yang berhubungan dengan masalah peradilan. Berdasarkan teori Friedman, sistem hukum adalah seperangkat operasional hukum, struktur hukum dan budaya hukum. Substansi hukum meliputi aturan, norma, dan pola perilaku, baik hukum yang tertulis maupun hukum yang berlaku dalam masyarakat. Dalam pasal 101 ayat (6) UU No. 8 Tahun 1995 dalam penjelasannya disebutkan: Yang dimaksud dengan “Aparat penegak hukum lain” dalam ayat ini antara lain aparat penegak hukum dari Kepolisian Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Imigrasi, Departemen Kehakiman, dan Kejaksaan Agung.

polisi.jpgPolisi adalah penegak hukum yang paling sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Pasal 2 UU No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia: “Fungsi kepolisian adalah salah satu fungsi pemerintahan negara di bidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.” Kita mengetahui dengan jelas bahwa polisi adalah seorang penegak hukum, sehingga saat kita melanggar hukum hanya dengan melihat dari seragamnya atau bunyi sirene mobilnya saja kita sudah merasa takut. Seperti yang dialami oleh salah seorang teman saya, dia selalu cemas ketika sedang mengendarai kendaraannya di jalan kemudian melihat polisi lalu lintas yang sedang bertugas karena dia belum memiliki SIM dan pernah di tilang sebelumnya.
Hal ini berhubungan dengan teori Kecemasan menurut teori Freud (1933/1964) merupakan situasi afektif yang dirasa tidak menyenangkan dan yang diikuti oleh sensasi fisik yang memperingatkan seseorang akan bahaya yang mengancam. Kecemasan yang dialami teman saya ini termasuk ke dalam kategori kecemasan realistis yang terkait erat dengan rasa takut.

IMG-20140507-WA011Polisi dalam menjalankan tugasnya, harus bertindak tegas dan berwibawa, karena polisi adalah penegak hukum. Seorang polisi pasti akan mengendalikan diri mereka agar terlihat berwibawa di masyarakat, seperti dalam teori “Konformitas yaitu suatu jenis pengaruh sosial dimana individu mengubah sikap dan tingkah laku mereka agar sesuai dengan norma yang ada”, jadi seorang polisi tanpa adanya permintaan pun pasti dia akan bersikaptegas dan berwibawa.

seragam

Polisi memiliki “wewenang” yang dalam ilmu sosiologi didefinisikan sebagai “Kekuasaaan yang ada pada seseorang atau sekelompok orang yang mendapat pengakuan masyarakat.” Karena citra polisi yang sangat kuat oleh orang jahat dimanfaatkan untuk menjadi polisi gadungan, apalagi sekarang ini seragam polisi ada yang dijual di pasar dan siapapun dapat membelinya. Oleh orang jahat tersebut seragam polisi ini dapat digunakan untuk melakukan perilaku yang menyimpang seperti yang pernah ditayangkan di salah satu berita di televisi dimana ada seseorang yang mengaku-ngaku sebagai seorang polisi untuk memeras korbannya.

IMG-20140507-WA021Dalam kasus ini warga yang menjadi korban adalah yang melakukan “kepatuhan” terhadap polisi gadungan ini sehingga mereka memberikan uang yang mereka miliki karena takut kepada polisi gadungan ini. Kepatuhan atau Obedience dalam teori psikologi sosial adalah “Suatu bentuk pengaruh sosial dimana seseorang hanya perlu memerintahkan satu orang atau lebih untuk melakukan satu atau beberapa tindakan.” Penyebab kepatuhan yang dilakukan oleh warga yang menjadi korban pemerasaan ini adalah karena polisi gadungan (si pemberi perintah) menggunakan symbol/ lambang untuk mengingatkan akan kekuasaan, dan proses terjadinya cepat warga yang menjadi korban tidak sempat berpikir mendalam sehingga menuruti saja perkataan polisi gadungan tersebut.
Polisi adalah seorang penegak hukum, namun tidak hanya sebagai penegak hukum saja polisi juga bertugas dalam pemeliharaan keamanan, ketertiban, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan masyarakat seperti yang telah dibahas. Setiap masyarakat mempunyai persepsi tersendiri terhadap polisi, karena persepsi merupakan proses mengenali objek atau peristiwa yang terjadi pada individu setelah mendapat stimulus melalui penginderaan individu itu. Melihat tugas seorang polisi dalam kehidupan bermasyarakat, pasti sudah banyak sekali persepsi terhadap seragam polisi yang berkembang dimasyarakat. Persepsi yang berkembang ini membawa dampak yang baik dan juga buruk.
Polisi diharapkan mampu untuk lebih bijaksana lagi dalam bertindak karena wewenang yang dimiliki dan diharapkan tidak melakukan penyelewengan wewenang, karena tanggung jawabnya terhadap tugas. Masyarakat pun juga lebih bersikap bijaksana juga dalam bertindak bila melakukan pelanggaran, maka harus bertanggung jawab dengan pelanggaran yang diperbuat. Apabila tidak melakukan kesalahan namun dihukum, atau bertemu oknum jahat yang mengaku-ngaku polisi dan memeras, maka warga juga harus mempertahankan hak mereka. Seperti dalam kasus polisi gadungan yang memeras korbannya. Sudah jelas bahwa tindakan polisi gadungan ini tidak sesuai dengan tugas polisi seharusnya, sehingga bila bertemu dengan oknum jahat seperti ini warga jangan langsung takut dan memberikan yang polisi gadungan ini minta. Apabila berurusan seperti dalam hal tersebut, warga seharusnya menanyakan terlebih dahulu surat tugas, nama dan jabatan yang bersangkutan.

Daftar Pustaka

Basuki, A.M. Heru. 2008. “Psikologi Umum”. Jakarta : Universitas Gunadarma
Feist, Jess. Feist, Gregory J. 2010. “Teori Kepribadian”. Jakarta : Salemba Humanika
Soekanto, Soerjono. 2012. “Sosiologi Suatu Pengantar”. Jakarta : Raja Grafindo Persada
http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt502201cc74649/siapa-sajakah-penegak-hukum-di-indonesia
http://strahan.kemhan.go.id/web/jdih/myupload/penegakan_hukum_di_laut.pdf

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s